Pengertian, Unsur-Unsur, dan Kaidah Kebahasaan Debat

Pengertian, Unsur-Unsur, dan Kaidah Kebahasaan Debat | Kali ini kita akan membicarakan tentang Pengertian, Unsur-Unsur, dan Kaidah
Kebahasaan Debat. Beberapa pengertian di sini diambil dari sejumlah
referensi. Semoga penjelasan dalam artikel ini bermanfaat untuk Anda.

Pengertian Debat

Debat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembahasan dan pertukaran
pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk
mempertahankan pendapat masing-masing. Kegiatan debat biasanya melibatkan
beberapa tim. Satu tim biasanya berperan sebagai tim “afirmatif” atau pihak
yang menentang, sementara tim lainnya sebagai tim netral atau pihak yang
berada di tengah-tengah, yakni mendukung dan tidak menentang. Tim yang
setuju dengan topik disebut tim afirmatif, sedangkan tim yang tidak setuju
dengan topik disebut tim negatif. Tim yang tidak memihak disebut tim
netral.

Dalam debat terdapat beberapa bagian, seperti isu, argumen, sudut pandang,
dan bagian simpulan. Isu merupakan permasalahan yang diperdebatkan. Argumen
merupakan alasan-alasan yang mendukung pendapat atas permasalahan itu.
Sudut pandang merupakan cara pandang dari sudur mana permasalahan itu
dilihat. Simpulan merupakan suatu rumusan pendapat dari tim debat.

Lazimnya dalam perdebatan, argumen itu didasarkan atas himpunan
fakta-fakta, data, teori, regulasi, norma, dan sebagainya. Semakin banyak
fakta yang bisa dihimpun disertai data yang akurat dan dilengkapi teori,
regulasi, norma yang relefan akan semakin kuat dasar argumen sehingga
pendapat yang disampikan sulit dibantah. Debat pada hakikatnya adalah adu
argumentasi atau mengadu gagasan bukan adu fisik juga bukan adu mulut untuk
menjatuhkan lawan dengan menyinggung latar belakang pribadi/personal.
Setelah mengkaji persoalan dari sudut pandang tertentu berdasarkan argumen
yang dibangun, akhirnya sampailah pada satu rumusan pendapat yang disebut
simpulan.

Isu, argumentasi, dan simpulan itu merupakan komponen yang membangun teks
debat.

Baca Juga: Pengertian, Struktur, dan Ciri Kebahasaan Teks Biografi

Unsur-Unsur Debat

Debat dapat terwujud apabila unsur-unsurnya terpenuhi. Unsur-unsur tersebut
adalah:

1. mosi

2. tim afirmasi

3. tim oposisi

4. tim netral

5. penonton/juri yang dipanggil

6. moderator

7. penulis

Mosi dalam debat sama dengan topik dalam sebuah teks. Mosi menjadi dasar
bagi pihak-pihak yang terlibat debat untuk menentukan sikap apakah
mendukung atau menolak mosi. Berdasarkan mosi, semua pihak dapat menyiapkan
argumen untuk mendukung untuk mendukung pendapatnya tentang mosi.

Pada saat pembukaan debat, moderator bisa menyampaikan mosi yang
didebatkan. Perhatikan contoh kutipan bagian pembuka debat berikut ini.




Siang ini kita akan mengikuti kegiatan debat antara Tim Afirmasi dari
SMA Pembangunan Jaya, Tim Oposisi dari SMK Nusantara, serta Tim Netral
dari MA Al-Ikhlas.

Pagi ini kedua tim akan berdebat tentang “Bahasa Indonesia Tergantung
pada Bahasa Asing.” Sebelum melaksanakan debat, saya akan membacakan
tata tertib debat sebagai berikut.

Mosi dalam kutipan debat di atas adalah bahasa Indonesia tergantung pada
bahasa asing.

Selain disampaikan oleh moderator, tak jarang anggota tim yang berdebat
juga secara tersirat menyatakan opsi yang didebatkan. Perhatikan contoh
kutipan teks debat berikut ini.

Saya tidak setuju jika kosakata bahasa asing yang masuk ke dalam
penggunaan bahasa Indonesia terjadi karena ketidakberdayaan bahasa
Indonesia dalam interaksi antarbahasa. Kosakata bahasa asing masuk ke
dalam bahasa Indonesia hanya digunakan sebagai persamaaan kata yang
bagi sebagian orang lebih mudah dipahami. Namun, pada intinya dalam
bahasa Indonesia itu sendiri, telah ada kosakata yang berkaitan dengan
kosakata asing tersebut.

Dari kalimat pertama kutipan teks debat di atas dapat diketahui bahwa isu
atau masalah yang didebatkan (mosi) adalah penerapan kosakata bahasa asing
ke dalam penggunaan bahasa Indonesia disebabkan ketidakberdayaan bahasa
Indonesia dalam interaksi antarbahasa.

Menyusun Argumen Debat yang Baik

Sebelum mempertahankan pendapat tentang suatu isu atau permasalahan, hal
pertama yang harus dimiliki seseorang adalah memahami isu atau permasalahan
dengan baik. Untuk itu, pihak-pihak yang akan melakukan debat harus banyak
mencari informasi dari berbagai sumber. Misalnya, dengan membaca berita,
menyimak berita dari radio dan televisi, atau menggali informasi dari
narasumber yang memahami isu atau permasalahan dengan baik.

Berikut ini adalah contoh pendapat atau argumen dalam debat.

Menurut saya, tawuran antarpelajar tidak saja terjadi karena karakter
anak-anak yang cenderung brutal. Lebih dari itu, tawuran terjadi karena
anak-anak mendapat teladan yang kurang baik dari para pemimpin bangsa
yang sibuk saling berebut kekuasaan dan saling menghujat. Telvisi dan
internet pun dengan bebas menyajikan berbagai aksi brutal yang membuat
anak-anak tergoda untuk meniru.

Dalam kutipan tersebut pembicara menyampaikan pendapatnya bahwa tawuran
antarpelajar terjadi tidak saja karena karakter anak-anak yang cenderung
brutal. Alasan argumen yang disampaikan adalah sebagai berikut.

1. Lebih dari itu, tawuran terjadi karena anak-anak mendapat teladan yang
kurang baik dari para pemimpin bangsa yang sibuk saling berebut kekuasaan
dan saling menghujat.

2. Telvisi dan internet pun dengan bebas menyajikan berbagai aksi brutal
yang membuat anak-anak tergoda untuk meniru.

Baca Juga: Pengertian, Bentuk, Struktur, dan Unsur Kebahasaan Karya Ilmiah

Menyimpulkan Hasil Debat

Tahapan terakhir yang harus dilakukan oleh pihak yang berdebat, baik tim
afirmasi maupun tim oposisi adalam menyampaikan simpulan. Simpulan tersebut
dirumuskan berdasarkan pendapat dan argumen yang telah disampaikan
sebelumnya. Simpulan dapat juga disebut sebagai hasil dari pembicaraan.

Karena simpulan dalam debat disusun berdasarkan pendapat dan argumen yang
telah disampaikan sebelumnya, penalaran yang digunakan dalam menyusun
simpulan debat termasuk dalam penalaran induktif. Ada tiga cara untuk
menarik kesimpulan dengan penalaran induktif, yaitu generalisasi, analogi,
dan sebab akibat.

1.
Generalisasi

Penarikan kesimpulan dengan cara generalisasi berpangkal pada
pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus, fenomena-fenomena khusus
kemudian ditarik pernyataan yang bersifat general (umum). Perhatikan contoh
berikut ini.

Pernyataan Khusus:

1.

Bahasa Indonesia menyerap kosakata dari bahasa Arab terutama yang
berkaitan dengan masalah agama, terutama agama Islam.


2.
Contoh kosakata hasil penyerapan bahasa Arab adalah
musyawarah, hak, alat, dan taubat.

3.

Bahasa Indonesia juga menyerap kosakata dan istilah bidang teknologi
dari Jepang, Jerman, Korea, dan negara lainnya.


4.

Kosakata dan istilah teknologi hasil penyerapan dari negara-negara
tersebut antara lain komputer, gadget, televisi, internet, dan
astronot.


5.

Tak hanya itu, bahasa Indonesia juga menyerap kata dan istilah
sekaligus budaya dari negara lain.


6.
Contoh kosakata hasil penyerapan terakhir antara lain
karate, dansa, bakso, mie, dan kimono.

Simpulan


Bahasa Indonesia menyerap kosakata dan istilah dari bahasa asing untuk
memperkaya perbendaharaan kosakata.

2.
Analogi

Analogi merupakan proses penarikan simpulan yang didasarkan atas
perbandingan dua hal yang berbeda. Akan tetapi, karena mempunyai kesamaan
segi, fungsi, atau ciri, kemudian keduanya dibandingkan (disamakan).
Kesamaan keduanya inilah yang menjadi dasar penarikan simpulan.

Perhatikan contoh berikut ini.

Pembanding I:


Orangtua mendidik kita di rumah dengan penuh kasih sayang. Mereka
mengajari kita banyak hal. Tak jarang kita dimarahi ketika kita nakal
dan tidak mematuhi nasihat mereka.

Hal yang dibandingkan 2:


Di sekolah, para guru juga mendidik kita dengan penuh kasih sayang.
Guru-guru mengajari kita berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan,
bahkan juga memberikan teladan akhlak yang baik. Demi menanamkan
kedisiplinan dan tanggung jawab, para guru acapkali memberikan hukuman
pada kita.

Simpulan:


Jadi, dapat dikatakan bahwa para guru adalah orangtua kita di sekolah.


Berdasarkan contoh penarikan simpulan secara analogi di atas dapat
diketahui bahwa rumusan simpulan dalam analogi adalah

analogi ^ hal yang dibandingkan ^ kesamaan kedua hal yang
diperbandingkan.

3.
Sebab-Akibat

Penarikan simpulan secara induktif berikutnya adalah sebab-akibat. Dalam
pola penalaran ini, sebab bisa menjadi gagasan utamanya, sedangkan akibat menjadi gagasan penjelasnya. Namun, dapat juga terjadi
sebaliknya. Beberapa sebab dapat menjadi gagasan penjelas
sedangkan akibat menjadi gagasan utamanya. Dalam debat, penarikan
simpulan dilakukan setelah pernyataan pendapat dan argumen disampaikan
lebih dulu maka pola yang kedua lebih tepat. Oleh karena itu, akibat menjadi gagasan utama, sedangkan sebab-sebabnya menjadi
gagasan penjelas yang disampaikan lebih dulu.

Perhatikan contoh berikut ini.

Sebab-sebab

1.

Konsep drainase saat ini yang diterapkan di seluruh pelosok tanah air
saat ini untuk mencegah banjir.


2.

Konsep yang dipakai adalah konsep drainase konvensional, yaitu drainase
“pengaturan kawasan”.


3.

Drainase konvensional adalah upaya membuang atau mengalirkan air
berlebihan secepat-cepatnya ke sungai terdekat.


4.

Dalam konsep drainase konvensional, seluruh air hujan yang jaruh ke
atau suatu wilayah harus secepat-cepatnya dibuang ke sungai dan
seterusnya mengalir ke laut.


5.

Orang sama sekali tidak berpikir apa yang akan terjadi di bagian hilir,
jika semua air hujan dialirkan secepat-cepatnya ke sungai tanpa
diupayakan agar air mempunyai waktu cukup untuk meresap ke dalam tanah.


6.

Konsep mengalirkan air secepatnya berarti pengaturan kawasan atau
menurunkan kesempatan bagi air untuk meresap ke dalam tanah.

Akibat:


Akibatnya, banyak terjadi kekeringan di mana-mana sebab air tidak
diberi kesempatan meresap ke dalam tanah.

Kaidah Kebahasaan Debat

Debat yang dipelajari di sini adalah debat ilmiah, bukan debat kusir
seperti yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Debat kusir
bertujuan untuk mengalahkan pendapat pihak lain seringkali dilakukan tanpa
memedulikan kesahihan argumen yang disampaikan.

Sebagai sebuah kegiatan ilmiah, debat dilakukan dengan menggunakan ragam
bahasa baku sekaligus ilmiah. Pemilihan ragam bahasa ini dilakukan untuk
menghindari salah tafsir, baik dalam ragam bahasa tulis maupun lisan,
kelengkapan, kecermatan, dan kejelasan pengungkapan ide harus diperhatikan.

Berikut ini adalah ciri ragam bahasa ilmiah.

1. Kaidah bahasa Indonesia yang digunakan harus benar sesuai dengan kaidah
bahasa baku, baik kaidah tata ejaan mapun tata bahasa (pembentukan kata,
frasa, klausa, kalimat, dan paragraf).

2. Ide yang diungkapkan harus benar sesuai dengan fakta dan dapat diterima
akal sehat (logis), harus tepat, dan hanya memiliki satu makna, padat,
langsung menuju sasaran, runtun dan sistematis. Hal ini tergantung pada
ketepatan pemilihan kata (diksi) dan penyusunan struktur kalimat sehingga
kalimat yang digunakan efektif.

3. Kata yang dipilih memiliki makna sebenarnya (denotatif).

Bahasa baku adalah ragam bahasa yang telah ditetapkan sebagai ragam yang
dapat diterima dan berfungsi sebagai model untuk suatu masyarakat. Jadi,
ada tiga aspek dalam bahasa baku yang saling menyatu yaitu kodifikasi,
keberterimaan, dan difungsikan sebagai model.

Selain itu, dalam debat sebaiknya penggunaan kata-kata berbahasa daerah
atau asing, baha prokem dan bahasa gaul harus diminimalkan. Hal ini
bertujuan agar terhindar dari ketersinggungan dan mengakibatkan acara debat
karena antarpihak tidak saling memahami kata yang digunakan.

Perhatikan contoh kalimat berikut ini.

1.
Pemerintah seharusnya tidak
menutup mata pada fakta bahwa UN telah memakan banyak korban.

2.
Banyak
banget siswa jatuh bergelimpangan karena takut gagal dalam Ujian Nasional

Kalimat (1) dan kalimat (2) di atas merupakan contoh kalimat tidak baku.
Ketidak bakuan keduanya karena menggunakan frasa bermakna konotatif yaitu
frasa menutup mata dan jatuh bergelimpangan. Pada kalimat
kedua, ketikdakefisienan kalimatnya juga disebabkan penggunaan kata-kata
dari bahasa daerah yaitu kata banget.

Pembenahan kedua kalimat di atas agar menjadi kalimat ragam ilmiah yang
baku dapat kamu lihat pada bagian berikut.

1.

Pemerintah seharusnya peduli pada fakta bahwa UN telah memakan banyak
korban.


2.

Banyak sekali siswa frustrasi karena takut atau gagal dalam Ujian
Nasional.

Nah, itulah penjelasan panjang tentang pengertian, unsur-unsur, dan kaidah kebahasaan debat. Mudah mudahan artikel ini bisa menambah wawasan Anda
dalam bidang bahasa Indonesia. Terima kasih.

Metode Penyerapan Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia

Metode Penyerapan Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia | Salah satu penunjang seseorang dalam memahami bacaan dengan baik dan benar adalah mengetahui makna kata atau istilah yang ilmiah dan serapan. Jika seseorang tidak mengetahui arti kata dalam sebuah teks yang dibaca,...

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga | Surat niaga juga disebut dengan istilah surat dagang. Surat niaga adalah surat yang isinya berhubungan dengan kepentingan-kepentingan perniagaan atau perdagangan. Surat niaga dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan atau...

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga | Surat niaga juga disebut dengan istilah surat dagang. Surat niaga adalah surat yang isinya berhubungan dengan kepentingan-kepentingan perniagaan atau perdagangan. Surat niaga dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan atau...

Pengertian, Unsur-Unsur, dan Contoh Surat Kuasa

Pengertian, Unsur-Unsur, dan Contoh Surat Kuasa | Surat kuasa adalah surat yang berisi pelimpahan wewenang dari seseorang atau pejabat tertentu kepada seseorang atau pejabat lain untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Surat ini biasanya...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *