Pengertian, Bentuk, Struktur, dan Unsur Kebahasaan Karya Ilmiah


Pengertian, Bentuk, Struktur, dan Unsur Kebahasaan Karya Ilmiah |
Kali ini kami akan membahas mengenai karya ilmiah. Penjelasan ini diambil
dari buku Bahasa Indonesia kelas XI kurikulum 2013. Mudah-mudahan apa yang
kami tuliskan ini bermanfaat untuk Anda. Selamat belajar dan menyelami.

A.
Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah adalah tulisan yang berisi fenomena atau peristiwa yang
ditulis berdasarkan kenyataan (bukan fiksi). Dalam kamus bahasa Indonesia
disebutkan, karya ilmiah adalah karya tulis yang dibuat dengan
prinsip-prinsip ilmiah, berdasarkan data dan fakta (observasi, eksperimen,
kajian pustaka). Tulisan karya ilmiah bisa menyangkut banyak tema,
misalnya, tentang ilmu pengetahuan, alam sekitar, teknologi, dan seni yang
diperoleh melalui studi kepustakaan, penelitian, atau pengalaman di
lapangan, dan pengetahuan orang lain sebelumnya.

B.
Bentuk Karya Ilmiah

Karya ilmiah dapat ditulis dalam berbagai bentuk penyajian. Setiap bentuk
itu berbeda dalam hal kelengkapan strukturnya. Secara umum, bentuk
penyajian karya terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu bentuk populer, bentuk
semiformal, dan bentuk formal.

1.
Bentuk populer

Karya ilmiah bentuk ini sering disebut karya ilmiah populer. Bentuknya
manasuka. Karya ilmiah bentuk ini bisa diungkapkan dalam bentuk karya
ringkas. Ragam bahasanya bersifat santai (populer). Karya ilmiah populer
umumnya dijumpai dalam media massa, seperti koran atau majalah. Istilah
populer digunakan untuk menyatakan topik yang akrab, menyenangkan bagi populus (rakyat) atau disukai oleh sebagian besar orang karena
gayanya yang menarik dan bahasanya mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya
sederhana, lancar, namun tidak berupa senda gurau dan tidak pula bersifat
fantasi (rekaan).

2.
Bentuk Semiformal

Secara garis besar, karya ilmiah bentuk ini terdiri atas:

a. halaman judul,

b. kata pengantar,

c. daftar isi,

d. pendahuluan,

e. pembahasan,

f. simpulan, dan

g. daftar pustaka.

Bentuk karya ilmiah semacam itu, umumnya digunakan dalam berbagai jensi
laporan biasa dan makalah.

3.
Bentuk Formal

Karya ilmiah bentuk formal disusun dengan memenuhi unsur-unsur kelengkapan
akademis secara lengkap, seperti skripsi, tesis, atau disertasi.
Unsur-unsur karya ilmiah bentuk formal, meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Judul

b. Tim pembimbing

c. Kata pengantar

d. Abstrak

e. Daftar isi

f. Bab Pendahuluan

g. Bab Telaah kepustakaan/kerangka teoritis

h. Bab Metode penelitian

i. Bab Pembahasan hasil penelitian

j. Bab Simpulan dan rekomendasi

k. Daftar pustaka

l. Lampiran-lampiran

m. Riwayat hidup

C.
Penjelasan tentang Struktur Karya Ilmiah

Beberapa bagian penting dari struktur karya ilmiah diuraikan sebagai
berikut.

1.
Judul

Judul dalam karya ilmiah dirumuskan dalam satu frasa yang jelas dan
lengkap. Judul mencerminkan hubungan antarvariabel. Istilah hubungan di
sini tidak selalu mempunyai makna korelasional, kausalitas, ataupun
determinatif. Judul juga mencerminkan dan konsisten dengan ruang lingkup
penelitian, tujuan penelitian, subjek penelitian, dan metode penelitian.

Contoh:
AKTIVITAS PERGAULAN DAN PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi Deskriptif tentang Kecerdasan Emosi dan Intelektual) Siswa SMA Labschool UPI Bandung

Dari judul di atas, dapat diketahui bahwa:

a. Masalah yang diteliti: aktivitas pergaulan dan prestasi belajar siswa

b. Ruang lingkup penelitian: kecerdasan emosi dan intelektual siswa

c. Tujuan penelitian: mengetahui ada tidaknya hubungan antara aktivitas
pergaulan dengan prestasi belajar siswa

d. Subjek penelitian: siswa SMA Labschool UPI Bandung

e. Metode penelitian: deskriptif-komparatif

Penulisan judul dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan
menggunakan huruf kapital semua kecuali pada anak judulnya. Kedua, dengan
menggunakan huruf kecil kecuali huruf pertamanya. Apabila cara yang kedua
yang akan digunakan, maka kata-kata penggabung, seperti dengan dantentang serta kata-kata depan seperti, di, ke, dari, dan ke huruf pertamanya tidak boleh menggunakan huruf kapital. Di
akhir judul tidak boleh menggunakan tanda baca apa pun, termasuk titik
ataupun koma.

2.
Pendahuluan

Pada karya ilmiah formal, bagian pendahuluan mencakup latar belakang
masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah,
tujuan penelitian, dan manfaat atau kegunaan penelitian. Selain itu, dapat
pula dilengkapi dengan definisi operasional dan sistematika penulisan.

a.
Latar Belakang Masalah

Uraian pada latar belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan alasan
timbulnya masalah dan pentingnya untuk dibahas, baik itu dari segi
pengembangan ilmu, kemasyarakatan, maupun dalam kaitan dengan kehidupan
pada umumnya.

b.
Perumusan Masalah

Masalah adalah segala sesuatu yang dianggap perlu pemecahan oleh penulis,
yang pada umumnya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan mengapa atau bagaimana. Berangkat dari pertanyaan itulah, penulis menganggap
perlu untuk melakukan langkah-langkah pemecahan, misalnya melalui
penelitian. Masalah itu pula yang nantinya menjadi fokus pembahsan di dalam
karya ilmiah tersebut.

c.
Tujuan (Penulisan Karya Ilmiah)

Tujuan merupakan pernyataan mengenai fokus pembahasan di dalam penulisan
karya ilmiah tersebut; berdasarkan masalah yang telah dirumuskan. Dengan
demikian, tujuan harus sesuai dengan masalah pada karya imiah itu.

d.
Manfaat

Perlu diyakinkan pula kepada pembaca tentang manfaat atau kegunaan dari
penulisan karya ilmiah. Misalnya untuk pengembangan suatu bidang ilmu
ataupun untuk pihak atau lembaga-lembaga tertentu.

3.
Kerangkan Teoritis

Kerangka teoritis disebut juga kajian pustaka atau teori landasan. Tercakup
pula di dalam bagian ini adalah kerangka pemikiran dan hipotesis. Kerangka
teoretis dimulai dengan mengidentifikasi dan mengkaji berbagai teori yang
relevan serta diakhiri dengan pengajuan hipoteisi.

Di samping itu, dalam kerangka teoritis perlu dilakukan pengkajian terhadap
penelitian-penelitian yang telah dilakukan para penulis terdahulu. Langkah
ini penting dilakukan guna menambah dan memperoleh wawasan ataupun
pengetahuan baru, yang telah ada sebelumnya. Di samping akan menghindari
adanya duplikasi yang sia-sia, langkah ini juga memberikan perspektif yang
lebih jelas mengenai hakikat dan kegunaan penelitian itu dalam perkembangan
ilmu secara keseluruhan.

4.
Metodologi Penelitian

Dalam karya tulis yang merupakan hasil penelitian, perlu dicantumkan pula
bagian yang disebut dengan metode penelitian. Metodologi penelitian
diartikan sebagai prosedur atau tahap-tahap penelitian, mulai persiapan,
penentuan sumber data, pengolahan, sampai dengan pelaporannya.

Setiap penelitian mempunya metode penelitian masing-masing, yang umumnya
bergantung pada tujuan penelitian itu sendiri. Metode-metode penelitian
yang dimaksud, misalnya, sebagai berikut.

a. Metode deskriptif, yakni metode penelitian yang bertujuan hanya
menggambarkan fakta-fakta secara apa adanya, tanpa adanya perlakuan apa
pun. Data yang dimaksud dapat berupa fakta yang bersifat kuantitatif
(statistika) ataupun fakta kualitatif.

b. Metode eksperimen, yakni metode penelitian bertujuan untuk memperoleh
gambaran atas suatu gejala setelah mendapatkan perlakuan.

c. Metode penelitian kelas, yakni metode penelitian dengan tujuan untuk
memperbaiki persoalan-persoalan yang terjadi pada kelas tertentu, misalnya
tentang motivasi belajar dan prestasi belajar siswa dalam kompetensi dasar
tertentu.

5.
Pembahasan

Bagian ini berisi paparan tentang isi pokok karya ilmiah, terkait dengan
rumusan masalah/tujuan penulisan yang dikemukakan pada bab pendahuluan.
Data yang diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara, dan sebagainya itu
dibahas dengan berbagai sudut pandang; diperkuat oleh teori-teori yang
telah dikemukakan sebelumnya.

Sekiranya diperlukan, pembahasan dapat dilengkapi dengan berbagai sarana
pembantu seperti tabel dan grafik. Sarana-sarana pembantu tersebut
diperlukan untuk menjelaskan pernyataan ataupun data. Tabel dan grafik
merupakan cara efektif dalam menyajikan data dan informasi. Sajian data dan
informasi lebih mudah dibaca dan disimpulkan. Penyajian informasi dengan
tabel dan grafik memang lebih sistematis dan lebih enak dibaca, mudah
dipahami, serta lebih menarik daripada penyajian secara verbal.

Penulis perlu menggunakan argumen-argumen yang telah dikemukakan dalam
kerangka teoritis. Pembahasan data dapat diibaratkan dengan sebuah pisau
daging. Apabila pisau itu tajam, baik pulalah keratan-keratan daging yang
dihasilkannya. Namun, apabila tumpul, keratan daging itu akan acak-acakan,
penuh cacat. Demikian pula halnya dengan pembahasan data. Apabila
argumen-argumen yang dikemukakan penulis lemah dan data yang digunakannya
tidak lengkap, pemecahan masalahnya pun akan jauh dari yang diharapkan.

6.
Simpulan dan Saran

Simpulan merupakan pemaknaan kembali atau sebagai sintesis dari keseluruhan
unsur penulisan karya ilmiah. Simpulan merupakan bagian dari simpul masalah
(pendahuluan), kerangka teoretis yang tercakup di dalamnya, hipotesis,
metodologi penelitian, dan temuan penelitian. Simpulan merupakan kajian
terpadu dengan meletakkan berbagai unsur penelitian secara menyeluruh. Oleh
karena itu, perlu diuraikan kembali secara ringkas pernyataan-pernyataan
pokok dari unsur-unsur di atas dengan meletakkannya dalam kerangka pikira
yang mengarah kepada simpulan.

Berdasarkan pengertian di atas, seorang peneliti harus pula melihat
berbagai implikasi yang dirimbulkan oleh simpulan penelitian. Implikasi
tersebut umpamanya berupa pengembangan ilmu pengetahuan, kegunaan yang
bersifat praktis dalam penyusunan kebijakan. Hal-hal tersebut kemudian
dituangkan ke dalam bagian yang disebut rekomendasi atau saran-saran.

7.
Daftar Pustaka

Daftar pustaka memuat semua kepustakaan yang digunakan sebagai landasan
dalam karya ilmiah yang diambil dari sumber tertulis, baik itu yang berupa
buku, artikel jurnal, dokumen resmi, maupun sumber-sumber lain dari
internet. Semua sumber tertulis atau tercetak yang tercantum di dalam karya
ilmiah harus dicantumkan di dalam daftar pustaka. Sebaliknya, sumber-sumber
yang pernah dibaca oleh penulis tetapi tidak digunakan dalam penulisan
karya ilmiah itu, tidak boleh dicantumkan di dalam daftar pustaka.

Cara menulis daftar pustaka berurutan secara alfabetis, tanpa menggunakan
nomor urut. Sumber tulisan/tercetak yang memerlukan banyak tempat lebih
dari satu baris ditulis dengan jarak satu spasi, sedangkan jarak antara
sumber yang satu dengan yang lainnya adalah dua spasi.

Susunan penulisan daftar pustaka: nama pengarang yang disusun dibalik;
tahun terbit; judul pustaka; kita terbit; dan nama penerbit.

Baca Juga: Contoh dan Cara Menulis Daftar Pustaka yang Baik dan Benar

D. Unsur Kebahahasaan Karya Ilmiah

Telah kita pelajari pada materi terdahulu bahwa salah satu ciri karya
ilmiah adalah bersifat objektif. Objektivitas suatu karya ilmiah, antara
lain, dintandai oleh pilihan kata yang bersifat impersonal. Hal itu berbeda
dengan teks lain yang bersifat nonilmiah, semacam novel ataupun cerpen yang
pengarangnya bisa ber-aku, kamu, dan dia. Kata
ganti yang digunakan dalam karya ilmiah harus bersifat umum, misalnya penulis atau peneliti.

Dalam hal ini, penulis tidak boleh menyatakan proses pengumpulan data
dengan kalimat pasif, misalnya, “Di dalam penelitian ini, digunakan
kuesioner”. Di dalam kalimat tersebut, subjek penelitian dinyatakan secara
tersurat. Dalam komunikasi ilmiah, memang penulis diharapkan sering
mempergunakan kalimat pasif seperti contoh di atas.

Karya ilmiah memerlukan kelugasan dalam pembahasannya. Karya ilmiah
menghindari penggunaan kata dan kalimat yang bermakna ganda. Karya ilmiah
mensyaratkan ragam yang memberikan keajegan dan kepastian makna. Dengan
kata lain, bahasa yang digunakannya itu harus reproduktif.
Artinya, apabila penulis menyampaikan informasi, misalnya, yang bermakna X,
pembacanya pun harus memahami informasi itu dengan makna X pula. Informasi
X yang dibaca harus merupakan reproduksi yang benar-benar sama dari
informasi X yang ditulis.

Ragam bahasa yang digunakan karya ilmiah harus lugas dan bermakna
denotatif. Makna yang terkandung dalam kata-katanya harus diungkapkan
secara eksplisit untuk mencegah timbulnya pemberian makna yang lain. Untuk
itu, dalam karya ilmiah kita sering mendapatkan definisi atau batasan dari
kata atau istilah-istilah yang digunakan. Misalnya, jika dalam karya itu
digunakan frasa atau klausa, penulis itu harus terlebih
dahulu menjelaskan arti kedua kata itu sebelum ia melakukan pembahasan yang
lebih jauh. Hal tersebut penting dilakukan untuk menyamakan persepsi antara
penulis dengan pembaca atau untuk menghindari timbulnya pemaknaan lain oleh
pembaca terhadap maksud kedua kata itu.

Makna denotasi adalah makna kata yang tidak mengalami perubahan, sesuai
dengan konsep asalnya. Makna denotasi disebut juga makna lugas. Kata itu
tidak mengalami penambahan-penambahan makna. Adapun makna konotasi adalah
makna yang telah mengalami penambahan. Tambahan-tambahan itu berdasarkan
perasaan atau pikiran seseorang terhadap suatu hal. Untuk lebih jelasnya,
perhatikan contoh berikut.

– Malam ini udara terasa sangat panas (denotasi) (panas di sini
berkaitan dengan suhu)

– Hatiku panas begitu melihat Ahmad dimarahi Pak Lurah (konotasi)
(panas di sini bermakna emosi, marah)

– Adikku senang mengenakan pakaian hitam bila keluar rumah (denotasi)
(warna gelap)

– Ia sudah insaf, tidak ingin lagi tenggelam ke dalam dunia hitam
(konotasi) (kemaksiatan, kehinaan)

Penjelasan panjang tentang makna denotatif dan konotatif bisa dibaca di artikel “Pengertian dan Contoh Makna Denotatif dan Konotatif”.

Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai Pengertian, Bentuk, Struktur, dan Unsur Kebahasaan Karya Ilmiah. Semoga penjelasan ini membantu Anda memahami
tema tersebut. Nantikan tulisan-tulisan lainnya di laman ini.

Metode Penyerapan Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia

Metode Penyerapan Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia | Salah satu penunjang seseorang dalam memahami bacaan dengan baik dan benar adalah mengetahui makna kata atau istilah yang ilmiah dan serapan. Jika seseorang tidak mengetahui arti kata dalam sebuah teks yang dibaca,...

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga | Surat niaga juga disebut dengan istilah surat dagang. Surat niaga adalah surat yang isinya berhubungan dengan kepentingan-kepentingan perniagaan atau perdagangan. Surat niaga dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan atau...

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga

Pengertian, Struktur, dan Contoh Surat Niaga | Surat niaga juga disebut dengan istilah surat dagang. Surat niaga adalah surat yang isinya berhubungan dengan kepentingan-kepentingan perniagaan atau perdagangan. Surat niaga dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan atau...

Pengertian, Unsur-Unsur, dan Contoh Surat Kuasa

Pengertian, Unsur-Unsur, dan Contoh Surat Kuasa | Surat kuasa adalah surat yang berisi pelimpahan wewenang dari seseorang atau pejabat tertentu kepada seseorang atau pejabat lain untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Surat ini biasanya...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *