H2O meerjungfrau: ETIKA PROFESI ADVOKAT

Advokat adalah suatu profesi terhormat (officium mobile)
dan karena itu mendapat kepercayaan penuh dari klien yang diwakilinya. Hubungan
kepercayaan ini terungkap dari kalimat “the lawyer as a fiduciary” dan adanya
“the duty of fidelity” para advokat terhadap kliennya. Akibat dari hubungan
kepercayaan dan kewajiban untuk loyal pada kliennya ini, maka berlakulah asas
tentang kewajiban advokat memegang rahasia jabatan (lihat Pasal 4 alinea 8
KEAI).

Seorang advokat wajib berusaha memperoleh pengetahuan yang
sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya tentang kasus kliennya, sebelum
memberikan nasihat dan bantuan hukum. Dia wajib memberikan pendapatnya secara
terus terang (candid) tentang untung ruginya (merus) perkara yang akan
dilitigasi dan kemungkinan hasilnya. Dalam canon 8 ABA ini dinamakan “duty to
give candid advice”. Sedang dalam KEAI diperingatkan agar advokat “tidak …
memberikan keterangan yang menyesatkan” dan “tidak … menjamin kepada kliennya
bahwa perkara yang ditanganinya akan menang” (Pasal 4 alinea 2 dan 3).

Salah satu tugas utama dari seorang advokat adalah menjaga
agar dirinya tidak menerima kasus dari klien yang menimbulkan “pertentangan
atau konflik kepentingan” (conflicting interest). Terutama dalam kantor hukum
yang mempekerjakan sejumlah besar advokat, maka sebelum menerima sebuah
perkara, nama calon klien dan lawan calon klien serta uraian singkat kasusnya
perlu diedarkan kepada para advokat sekantor. Ketentuan tentang hal ini, yaitu
“duty not to represent conflicting interests” belum ada dalam KEAI. Adapun a.l.
alasan perlunya ketentuan seperti ini, adalah asas yang telah disebut di atas
“the lawyer as a fiduciary” dan “the duty of fidelity”. Kepercayaan klien pada
advokat mungkin telah menyebabkan klien memberi advokatnya informasi
konfidensial atau pribadi. Kewajiban untuk loyal kepada klien berakibat bahwa
advokat dilarang (forbids) menerima perkara yang akan merugikan kepentingan
kliennya (forbids the acceptance in matters adversaly affecting any interest of
the client).

Mungkin terjadi keadaan, dimana dua (atau lebih) klien
lama suatu kantor advokat mempunyai kepentingan dalam perkara yang sama dan
kepentingan ini saling bertentangan. Asas pertama yang harus diperhatikan
adalah “tidak mewakili kepentingan yang bertentangan (conflicting interests),
kecuali dengan persetujuan semua pihak yang berkepentingan (the consent of all
concerned)”. Sedangkan asas kedua adalah bahwa “kecuali semua pihak memberi
persetujuan, maka hal ini berarti tidak boleh mewakili siapapun dari mereka (he
may represent no one of them)”.

Pasal 4 alinea 8 KEAI mengatur tentang kewajiban advokat
memegang rahasia jabatan dan “ … wajib tetap menjaga rahasia itu setelah
berakhirnya hubungan antar advokat dan klien”. Pertanyaan yang mungkin harus
dijawab oleh Dewan Kehormatan adalah: (a) apakah ketentuan ini berlaku juga
bila mempertimbangkan pengaduan tentang “conflicting interests”, dan (b) apakah
kewajiban “not to disclose or abuse professional confidence” tetap berlaku
setelah klien meninggal dunia?

Masih dalam konteks “rahasia jabatan” (professional
confidential information), apakah alinea 8 di atas itu mutlak? Bagaimana dengan
informasi bahwa klien akan melakukan kejahatan? Menurut saya, advokat dalam hal
ini dapat memberikan informasi “secukupnya” (as may be necessary) untuk
mencegah terjadinya kejahatan ataupun melindungi calon korban. Pertanyaan yang
lain adalah, bagaimana dengan informasi konfidensial klien yang mempunyai
implikasi terhadap keamanan umum (public safety) atau keamanan negara (state
security)? Di sini asas “menjaga rahasia jabatan” juga tidaklah mutlak.

Pendapat publik sering keliru menafsirkan kewajiban
advokat menerima klien, Pasal3 alinea 1 KEAI memberi hak kepada advokat untuk
menolak menerima perkara seorang klien, kecuali atas dasar agama, politik, atau
status sosial. Ini dinamakan “the right to decline employment” (canon 31 ABA).
Sedangkan dalam alinea 2, dikatakan bahwa tujuan advokat menerima perkara klien
adalah terutama “ … tegaknya hukum, kebenaran, dan keadilan”. Sedangkan dalam
Pasal 4 alinea 9 KEAI tidak dibenarkan seorang advokat melepaskan tugas yang
diberikan oleh kliennya pada saat yang tidak menguntungkan posisi klien. Ketiga
ketentuan di atas harus dibaca bersama. Dalam kasus dimana klien oleh publik
telah “dianggap” bersalah, maka berlaku asas “the right of the lawyer to
undertake the defense of the person accused of crime, regardless of his
personal opinion as to the guilt of the accused” (canon 5 ABA). Dalam hal
kemudian advokat ingin mengundurkan diri, maka hal itu harus dilakukan dengan
“good cause” (alasan yang wajar). Dikatakan a.l. oleh canon 44 ABA: “the lawyer
should non throw up the unfinished task to the detriment of his client, except
for reasons of honor or self-resfect”. Apa yang dimaksud dengan ini adalah
misalnya: klien memaksa agar advokat melakukan sesuatu yang tidak adil (unjust)
atau “immoral” dalam penanganan kasusnya. Apabila dia akan mengundurkan diri,
maka advokat harus memberikan kepada klien cukup waktu untuk memilih advokat
baru.

Sejauhmana seorang advokat boleh memperjuangkan kepentingan
kliennya juga sering disalahtafsirkan oleh publik. Hal yang sangat merugikan
dan merusak kehormatan advokat adalah pendapat yang sangat keliru: “it is the
duty of the lawyer to do what ever may enable him to succeed in winning his
clients cause”. Pendapat yang keliru ini bertentangan dengan sumpah atau janji
advokat dalam Pasal 4 ayat (2) UU Advokat, yang a.l. mengatakan bahwa dia
(advokat) akan bertindak jujur, adil, dan bertanggung jawab berdasarkan hukum
dan keadilan, serta tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada
hakim, pejabat pengadilan, atau pejabat lainnya agar memenangkan perkara
kliennya. Hal ini dikatakan lebih jelas dalam canon 15 ABA, a.l.: “ … the
lawyer owes entire devotion to the interest of the client … and the exertion
of his utmost learning and ability. But it is … to be borne in mind that the
great trust o fthe lawyer is to be performed within and not without the bounds
of law. The office of the attorney does not permit … for any client,
violation of law or any manner of fraud … he must obey his own conscience and
not that of his client”.

Asas terakhir yang saya kutip di atas, adalah bagaimana
kita harus menafsirkan dan menjalankan profesi advokat seperti yang diwajibkan
oleh asas KEAI, Pasal 3 alinea 7: “Advokat harus senantiasa menjunjung tinggi
profesi Advokat sebagai profesi terhormat (officium mobil

KEAJAIBAN ORGAN TUBUH MANUSIA DALAM MEMPERBAIKI DIRINYA SENDIRI

Percaya atau tidak, paru-paru Anda ternyata usianya baru enam minggu dan pengecap di lidah usianya baru 10 hari.Lantas apa alasannya? Tubuh secara alami bersikus yang membuat organ di tubuh tak setua yang Anda bayangkan.Berapa sajakah usia bagian di tubuh Anda?...

Mapan dulu atau Nikah dulu ??

Kemapanan sebelum menikah tentunya sangat diidam-idamkan oleh wanita maupun laki-laki, hmm..apalagi yang namanya laki-laki, banyak yang gak mau nikah karna belum mapan. Dan uniknya, ini karna doktrin dari para wanita, karna wanita ingin laki-laki yang mapan sebelum...

H2O meerjungfrau: Sakitnya Hidup Dalam Kebohongan

Bohong !! bila anda mendengar kata itu pasti yang terbesik dihati dan pikiran anda adalah rasa marah, jengkel atau rasa geram yang tak terkira, karena anda merasa ditipu.Dan pastinya rasa percaya yang ada selama ini secara otomatis akan hilang baik secara perlahan...

“PACARMU ITU BELUM TENTU JADI JODOHMU”

Seorang PACAR itu kebanyakan hanya hadir sebagai penghias hidup seseorang. Dia hanya singgah sebentar yang terkadang menyisakan kepahitan dan penyesalan yang berkepanjangan.Sedangkan JODOH adalah teman hidup yang telah digariskan Allah untuk menjadi pasangan...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *